my banner link

Tampilkan postingan dengan label business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label business. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2010

Salah Kaprah Bisnis Multi Level Marketing

MLM… waaaahh.. gw dari dulu males dengan yang namanya MLM dan segala kerabatnya.. MLM…….. augkhhh… dengernya aja bisa bikin perut mual, mimisan dan kalo bisa muntah dulu deh…
Begitulah jika kita menyebutkan dua huruf “M” dan satu huruf “L” tersebut. Rangkaian huruf yang bisa dibilang keramat atau seperti monster penghisap darah. Ketika mendengar kata-kata MLM mereka akan merasakan alergi. Padahal jika mereka ditanya apa itu MLM, mereka tidak bisa menjawab. Paling banter jawaban mereka adalah standart jawaban orang pada umumnya.
Mereka menganggap bahwa jika ada satu orang sukses di bisnis MLM pasti ada seratus orang yang duitnya lari ke satu orang tersebut. Bisakah seratus orang tersebut dibilang sukses? Bisa dengan cara mencari seratus korban lagi.
Tapi apakah benar MLM itu sebuah Bisnis yang selalu menguntungkan orang-orang yang diatas (Upline) dan menjadikan orang yang dibawah (Downline) sebagai “sapi perahan”? apakah benar MLM itu hanya money Game? Apakah bonus yang didapat adalah dari hasil merekrut orang lain untuk bergabung?
Bila kita berangkat dari kasus, seperti kasus Triliunan Rupiah Ditelan Money Game di Medan. Kita bisa melihat bahwa bisnis yang mereka jalankan adalah skema piramida atau money game. Bisnis ini jelas-jelas merugikan orang yang paling akhir bergabung. Karena menjadikan pertambahan pembayaran keanggotan sebagai tujuan bisnisnya, bukan pada penjualan produk.
Dari kasus diatas banyak orang yang dirugikan, banyak orang yang uangnya tidak kembali. Uang berjuta-juta rupiah yang di setorkan dalam usaha sistem piramid itu amblas begitu saja. Sehingga muncul anggapan di masyarakat bahhwa semua Multi Level Marketing itu adalah sama. Mereka yang pernah mengalami baik langsung maupun tidak langsung rata-rata merasakan trauma dengan bisnis semacam ini.
Maka dikemudian hari mereka akan mengatakan bahwa bisnis multi level marketing adalah bisnis yang menguntungkan orang-orang yang berada di atas (Upline) dan menjadikan orang-orang yang dibawah (Downline) sebagai “sapi perahan”.
Mereka mengatakan seperti itu karena mereka korban dari sistem piramid. Sehingga agar kejadian yang serupa tidak menimpa orang-orang mereka cintai, mereka akan memperingatkan kepada siapa saja agar jangan sekali-kali mengikuti bisnis MLM jika tak ingin mengalami kejadian seperti yang mereka alami.
Tak heran jika sekarang kita bertanya tentang MLM kepada orang-orang dari yang muda (abege) sampai yang tua, mereka akan menilai hal yang negatif terhadap bisnis Multilevel Marketing. Wajar bagi mereka yang mengatakan seperti itu karena mungkin mereka belum mengetahui hakikat bisnis MLM itu sendiri.
Agar kita tidak salah kaprah tentang The Real Bisnis MLM, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menilai perusahan Multi Level Marketing yang benar-benar murni MLM atau hanya Money Game berkedok MLM. Diantaranya adalah bonus yang di berikan kepada distributor bukan dari hasil perekrutan yang dilakukan.
Perusahaan memberikan komisi dari total keuntungan penjualan, bukan dari hasil perekrutan yang dilakukan oleh distributor. Perusahaan Multi Level Marketing yang sudah cukup terkenal karena latar belakangnya yang kuat dan etika kerja yang baik, tidak akan membayarkan komisi berdasarkan perekrutan yang dilakukan oleh distributor karena itu adalah bentuk piramida yang ilegal dan dilarang.
Perusahaan Multi Level Marketing yang mampu beroperasi 5 tahun dinilai realatif stabil. Memang tidak pernah ada jaminan perusahaan Multi Level Marketing beroperasi mampu bertahan seterusnya. Tetapi, perusahaan Multi Level yang mampu melampaui 5 tahun tentu didukung dengan modal yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan, memastikan peningkatan kualitas produk, maupun sarana pelatihan, dan lain sebagainya.
Distributor juga harus memperhatikan siapa yang bertanggung jawab terhadap perusahaan? Bagaimana latar belakangnya? Apakah pengetahuan dan pengalaman pemimpin di dunia bisnis jaringan itu dapat dijadikan referensi tersendiri untuk menciptakan era keemasan perusahaan? Distributor berhak mengetahui secara pasti tentang informasi tersebut dengan mudah. Jika hal itu sulit ditemukan jawabannya, lebih baik tidak memilih perusahaan tersebut.
Dan yang tidak kalah penting adalah perusahaan Multi Level Marketing itu terdaftar di APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia).
APLI adalah lembaga yang menaungi perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri penjualan langsung di Indonesia. Sebagai organisasi yang berdiri dan bekerja atas kesepakatan bersama para anggotanya, APLI merumuskan Kode Etik yang mengatur para anggotanya agar terjadi persaingan yang sehat sekaligus kerjasama untuk menanggulangi persoalan bersama.
Demikian hal yang perlu kita diperhatikan tentang Bisnis Multi Level Marketing. Agar tidak terjadi salah kaprah menilai mana yang MLM dan mana yang Money Game.
source : sandy web

Minggu, 25 Juli 2010

K-Link Indonesia Terima Sertifikasi MLM Syariah DSN MUI



MUI-Online, Jakarta. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa bisnis Multi Level Marketing (MLM) bersifat halal sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Penegasan tersebut disampaikan Ketua MUI, KH Amidhan dalam jumpa pers penyerahan sertifikasi MLM syariah kepada PT K-Link Indonesia, di kantor pusat MUI Jakarta (21/6).
Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris MUI Drs. HM. Ichwan Sam, anggota Badan Pelaksana Harian DSN Drs. H. Mohamad Hidayat, MBA, MH dan dr. H Endy M. Astiwara, MA, FIIS. Dari pihak K-Link dihadiri oleh Presiden Direktur PT K-Link Nusantara Dr. Mohammad Radzi Saleh, General Manager K-Link Ir. Djoko Komara, Sauqi M. Haramaini, dan Bayu Riono, SH.
Kepada wartwan, Amidhan menegaskan bahwa jika MLM dikelola dengan baik, ia banyak memiliki kemaslahatan bagi umat. Selain memperkuat struktur ekonomi kaum muslim, model bisnisnya yang mensyaratkan adanya interaksi secara langsung bisa menjadi cara untuk memperkuat silaturahim.
"Kaum Muslim Indonesia harus kritis sebelum memutuskan untuk terjun ke bisnis MLM," ujar Amidhan.

Menurut Amidhan MLM syariah memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki MLM konvensional antara lain mengangkat derajat ekonomi umat lewat bisnis yang sesuai prinsip syariat Islam. Konsumen akan terjamin dalam menggunakan produk-produk dan praktik bisnis yang halal dan thayyib. Lebih lanjut Amidhan mengingat masyarakat agar tidak terjebak praktik bisnis money game, berkedok MLM. MUI telah mengharamkan bisnis money game.

Menurut Amidhan, antara money game dan MLM, sepintas memang tidak memiliki produk atau jasa yang dijual. Jika ada, hanya untuk kedok saja. Selain itu, yang mendaftar lebih dahulu berpotensi mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan yang belakang. Selain itu, anggota tidak perlu kerja apa-apa. Hanya setor uang dan menunggu hasil. (wasik)

source: mui.co.id

Sabtu, 24 Juli 2010

MLM Menurut Safir Senduk



Pak Safir yang terhormat,
Saya seorang ibu rumah tangga. Saya baru saja membaca tulisan Bapak tentang bisnis jaringan pemasaran, dan saya sangat tertarik sekali membacanya. Tapi kok, saya sering melihat ada banyak teman saya gagal menjalankan bisnis seperti itu. Saya juga berpikir, apakah saya bisa menjalankan bisnis seperti itu? Bisnisnya sih menarik, tapi ini lho, waktunya. Sebagai ibu rumah tangga yang punya dua anak yang masih kecil, apa saya bisa menjalankan bisnis seperti yang Bapak ceritakan?
Terus ada satu lagi. Ketika saya menunjukkan artikel Bapak kepada suami saya, dia mengatakan bahwa bisnis seperti itu bagus, tapi bisnis itu hanya biasa dijalankan oleh orang-orang dari kalangan ekonomi tertentu saja. Mungkin karena suami saya merasa bahwa dia sudah berkecukupan barangkali ya? Saya sendiri cukup tersinggung mendengarnya. Memang sih, sampai saat ini kami sekeluarga hidup berkecukupan. Tapi apa salahnya kami menjalankan bisnis itu? Sepanjang itu halal enggak apa-apa kan Pak Safir?
Mohon tanggapannya dan terima kasih banyak. Mudah-mudahan Pak Safir bisa terus memberikan informasi tentang bisnis-bisnis seperti ini sehingga orang seperti saya bisa semakin terbuka pikirannya tentang adanya peluang-peluang untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Dari N di Jakarta

JAWABAN:
Ibu N di Jakarta,
Senang sekali saya bisa mendapatkan surat dari Anda. Sebetulnya, kalau bicara apakah bisnis jaringan pemasaran itu bagus atau tidak, jawabannya jelas, bisnis itu bagus sekali. Bagus dalam arti bahwa potensi penghasilannya bisa sangat tidak terbatas, sampai bagus dalam arti bahwa bisnis tersebut bisa membantu mengubah sikap dan kepribadian seseorang menjadi lebih baik.

Namun demikian, walaupun banyak orang sudah tahu bahwa bisnis seperti itu bagus, masih saja ada mitos-mitos hal yang menghambat mereka untuk menekuninya. Di bawah ini saya akan menjelaskan beberapa di antaranya, dan bagaimana tanggapan saya terhadap keberatan-keberatan tersebut.
BANYAK ORANG YANG TIDAK BERHASIL DALAM BISNIS INI
Betul. Banyak orang yang gagal dalam menjalankan bisnis ini, tapi hal ini juga terjadi pada berbagai bidang bisnis lain. Buktinya, banyak juga kok orang yang berhasil menjalankan bisnis jaringan pemasaran. Masuknya Anda dalam bisnis jaringan pemasaran bukan berarti bahwa itu merupakan jaminan keberhasilan. Anda hanya bisa berhasil dalam bisnis seperti ini kalau Anda bekerja. Masalahnya, banyak orang yang masuk ke bisnis ini mengharapkan bahwa mereka bisa berhasil tanpa perlu bekerja. Itu jelas mustahil.

Jadi, ketidakberhasilan juga terdapat di bisnis apa pun. Kalau Anda mau melihat apakah ada orang yang sudah berhasil dalam menjalankan bisnis jaringan pemasaran, ada banyak pertemuan atau acara-acara yang diadakan oleh para kelompok distributor yang sudah berhasil yang bisa Anda hadiri. Di sana Anda bisa melihat contoh dari orang-orang yang sudah berhasil.

BISNISNYA BAGUS, TAPI BUKAN UNTUK ORANG SEPERTI SAYA
Itu namanya gengsi. Biasanya ada dua macam hal yang menyebabkan orang merasa gengsi dalam melihat peluang bisnis jaringan pemasaran. Gengsi yang pertama adalah karena bisnis jaringan pemasaran melibatkan penjualan secara langsung (direct selling), sehingga banyak orang merasa gengsi dalam menjual. Menjual dianggap tidak lebih bergengsi dibanding membeli, karena bagi sebagian orang, kegiatan menjual menunjukkan bahwa Anda tidak punya uang, sedangkan kegiatan membeli dianggap jauh lebih bergengsi karena membeli menunjukkan bahwa Anda punya uang.
Boleh-boleh saja kalau seseorang merasa gengsi melakukan kegiatan menjual dan lebih suka membeli saja. Tapi apa yang terjadi kalau Anda terus menerus membeli? Lama-lama uang Anda habis kan? Jadi, seseorang harus menjual untuk bisa mendapatkan sesuatu agar kelak dia bisa terus hidup dan membiayai pengeluaran-pengeluarannya.
Perlu diingat, semua orang hidup dari menjual sesuatu. Seorang dokter menjual jasa kedokteran kepada pasiennya. Seorang karyawan menjual keahliannya kepada perusahaan tempat dia bekerja. Malah pernah ada pepatah yang mengatakan bahwa pada prinsipnya hanya ada dua profesi di dunia ini, yaitu penjual dan pembeli. Penjual menjual sesuatu dan mendapatkan kompensasi berupa uang, sedangkan pembeli mengeluarkan uang untuk mendapatkan sesuatu. Anda pilih yang mana?

SAYA SIBUK DAN TIDAK PUNYA WAKTU
Kalau Anda datang ke acara-acara yang diadakan oleh para distributor dari perusahaan jaringan pemasaran, Anda bisa melihat bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang juga bekerja di tempat lain dan sangat sibuk. Beberapa di antara mereka malah memiliki jabatan yang cukup baik di perusahaan tempat mereka bekerja. Ada yang manajer, ada yang direktur, ada profesional, dan banyak lagi. Kebanyakan di antara mereka memang menjalankan bisnis ini secara part time atau sambilan, tetapi dengan kadar keseriusan yang sama seperti kalau mereka bekerja di kantor mereka.
Saya sering melihat bahwa orang yang mengatakan bahwa mereka sibuk, sebetulnya mereka bukannya sibuk, tapi tidak bisa mengatur waktu dengan baik dan tidak melakukan prioritas kegiatan secara benar. Kalau Anda menganggap bisnis jaringan pemasaran adalah bisnis yang bagus, bahkan bisa memberikan semacam royalty kepada anak cucu Anda, maka Anda pasti akan memprioritaskan waktu Anda untuk bisa menjalankannya, walaupun dengan waktu yang sedikit tiap harinya.
Jadi, tidak ada orang yang terlalu sibuk untuk tidak menjalankan bisnis ini. Yang ada adalah orang yang tidak bisa memprioritaskan waktu kerjanya dengan baik.

INI BISNIS PIRAMID, YANG MASUK DULUAN PASTI PENGHASILANNYA LEBIH BESAR DARIPADA YANG MASUK BELAKANGAN
Berdasarkan pengamatan saya, ini bukan bisnis piramid. Kalau Anda masuk di tahun 2010 misalnya, Anda punya kemungkinan berhasil yang sama besar kalau Anda masuk sekarang. Banyak orang menjalankan bisnis ini baru dua tahun lalu sudah bisa berhasil dan mendapatkan penghasilan yang cukup besar, padahal banyak yang belum berhasil walaupun sudah masuk lebih dulu. Jadi, ini bukan bisnis piramid. Mau lihat buktinya? Datang ke acara-acaranya
.

SAYA TIDAK BERBAKAT MENJUAL DAN KARENA ITU TIDAK BISA MENJUAL
Seperti yang pernah saya tuliskan dalam nomor-nomor yang lalu, Anda tidak perlu punya bakat dan keahlian dalam menjual untuk bisa menjalankan bisnis jaringan pemasaran. Ini karena dalam bisnis jaringan pemasaran, Anda tidak disarankan untuk fokus kepada kegiatan menjual, tetapi lebih kepada menjual sedikit, dan membangun jaringan orang-orang yang juga menjual sedikit.
Sistem yang sudah berhasil bahkan menyarankan agar Anda melakukan presentasi bisnis kepada orang-orang yang sudah Anda kenal, dan dari situ, bila mereka tertarik, mereka akan bergabung dibawah pensponsoran Anda.
Bila mereka tidak tertarik, bisa Anda berikan Brosur Produk dan Daftar Harga untuk selanjutnya Anda layani kebutuhan mereka setiap bulannya akan barang dan jasa Anda. Di situlah Anda tidak perlu punya keahlian menjual. Bahkan kalau Anda juga memakai produknya, Anda bisa dengan mudah menceritakan kelebihan produk tersebut dan menjadi pemakai produk. Bukan berarti menambah pengeluaran, tapi Anda hanya sekadar mengganti merk produk yang biasa Anda pakai di rumah.
Itu saja tanggapan saya Ibu N. Mudah-mudahan sukses selalu menyertai Anda. Selamat menjalankan bisnis jaringan pemasaran.

Konsultan: Safir Senduk/Dok. NOVA