my banner link

Sabtu, 31 Oktober 2009

Lafal Alqur'an di Kaki Bayi

Ali Yabukov, orok sembilan bulan membuat gempar seluruh penduduk Dagestan, wilayah yang berdekatan dengan Chechnya, Selatan Rusia. Itu lantaran pada kaki kanannya terdapat kalimat Al-Qur'an.

Ali YabhukovMenurut harian Inggris The Sun, sebelum muncul di kaki kalimat itu muncul pada pergelangan tangan, kaki, dan perut Ali.

Kedua orang tua Ali pertama kali dibuat kaget ketika lafal Allah muncul pada dagu anaknya tak lama setelah lahir. Setelah itu beragam kalimat bertuliskan arab memenuhi seluruh anggota tubuh anak tersebut.

Ali juga membuat kalangan dokter di Rusia pusing tujuh keliling. Tim medis namun menolak bahwa tulisan di tubuh Ali sengaja dituliskan seseorang. Madina, ibu sang bayi mengatakan ia dan suaminya tidak begitu taat dalam melaksanakan agama Islam sebelum kalimat tersebut muncul pada kulit anaknya.

“Anak ini adalah murni tanda dari Tuhan. Allah mengirimkannya ke Dagestan dalam rangka menghentikan pemberontakan dan tensi di republik ini,” kata Akhmedpasha Amiralaev, salah seorang pemuka agama di Dagestan, Rabu (21/10).

Menurut Madina kalimat berlafalkan Al-Qur'an itu muncul setiap dua pekan sekali. “Biasanya muncul pada malam antara hari Kamis dan Jumat,” akunya.

Madina menambahkan ketika kalimat itu muncul badan Ali meras tidak enak. Tangisan dan suhu badan anak itu sontak panas. “Mustahil memegangnya ketika hal itu terjadi. Tubuhnya terus aktif bergerak. Kami menempatkannya dalam ayunan bayi. Saya tidak tega melihatnya ketika Ali merasa sakit,” katanya.

KASHMIR OBSERVER.NET | BAGUS WIJANARKO

Pilih Dipenjara Daripada Dicereweti Istri

Palermo - Seorang pria Italia, yang status hukumannya diubah dari penghuni penjara menjadi tahanan rumah, datang ke kantor polisi. Ia meminta dimasukkan kembali ke penjara karena, dengan menjadi tahanan rumah, ia tidak tahan dengan kecerewetan istri.

Pria itu, Santo Gambino, 30 tahun, mencari uang sebagai pekerja konstruksi. Saat bekerja ia membuang sampah berbahaya sehingga ditangkap polisi dan dimasukkan tahanan.

Aparat hukum, seperti dilaporkan koran-koran Italia pada Kamis (22/10), kemudian menganti status Gambino ke hukuman yang lebih ringan. Ia dikeluarkan dari penjara dan berstatus tahanan rumah. Tapi menjadi tahanan rumah memaksanya seharian tinggal di rumahnya di Villabate, pinggiran ibu kota Sicilia, Palermo.

Di rumahnya itu, Gambino sering bertengkar dengan istrinya yang cerewet. Istrinya terus-menerus bilang Gambino tidak bisa memberi uang untuk makan kedua anaknya. Bisa dibayangkan jika hukum memaksanya tinggal dalam rumah terus-menerus.

Karena sudah tidak tahan, Gambino pergi ke kantor polisi dan memintanya masuk penjara kembali saja, seperti sebelumnya. Daripada menjadi tahanan rumah tapi terus mendengar kecerewetan istrinya.

Polisi tidak mengabulkan permintaan Gambino dan menyuruhnya pulang, berdamai dengan istri. Selain itu, polisi juga mendakwanya melanggar perintah tahanan rumah karena pergi ke kantor polisi.

REUTERS/NURKHOIRI

Jumat, 30 Oktober 2009

Boost Your Workout With Caffeine


Good news for coffee, tea, and cola lovers: Caffeine may be the perfect complement to your summer workouts. Several recent studies have found that a small dose before exercising helps improve performance, and a few cups of the strong stuff after a tough workout can help your muscles recover more quickly.

A pre-workout jolt
In a recent Australian study of both recreational and advanced runners, those who took about 95 milligrams of caffeine (about the equivalent of an eight-ounce cup of coffee) improved their 5K times by an average of 10 to 12 seconds.

Back in May 2008, Spanish researchers reported that hot, dehydrated cyclists who downed caffeine with their water and carbs could pedal harder for a longer time in steamy weather—the first study to specifically simulate summertime temperatures. The scientists think caffeine stimulates muscles, thereby helping to offset heat-related fatigue.

Postexercise refueling
Another Australian study found that glycogen, the muscle’s primary fuel source during exercise, is replenished more quickly when athletes ingest both carbohydrate and caffeine following high-intensity workouts. Cyclists who drank large amounts of caffeine (five to six strong coffee cups worth!) along with carbs had 66% more glycogen in their muscles four hours after biking until exhausted, compared to when they consumed carbohydrate alone.

It seems that caffeine may speed up the blood’s transportation of glucose to the muscles. Since that much caffeine can make you jittery and disrupt sleep, the authors don’t recommend trying this at home—but they do hope to study the effects of lower doses in the future.

The truth about caffeine
But wait—aren’t we warned against consuming too many caffeinated beverages, especially when we’re out in the heat? I’ve always heard that caffeine can be dehydrating, so I posed the question to Nancy Clark, RD, author of the Sports Nutrition Guidebook, Fourth Edition (2008).

“While once deemed true, we now know that coffee is not dehydrating,” Clark tells me. “The truth is, a moderate intake of coffee, cola, and other caffeinated beverages do count toward fluid needs, particularly if you are accustomed to consuming caffeine as part of your daily diet.”

Besides waking you up, caffeine also stimulates the brain and improves concentration; there’s even evidence that drinking coffee may help youlive longer, and even smelling it may relieve stress. But be careful just how much caffeine you’re getting and where it’s coming from: While black coffee and plain tea have no calories, extras like cream, sugar, and flavored syrups—especially in large serving sizes—can quickly counteract your fitness goals.

Plus, every person reacts to caffeine differently, regardless of dosage. “Don’t just assume you will perform better with a caffeine boost: You might just end up nauseated, coping with a ‘coffee stomach,’ or suffering from caffeine jitters at a time when you are already nervous and anxious,” Clark warns. “Experiment during training to determine if a caffeinated beverage or plain water is your best bet.”

A moderate caffeine intake is considered to be about 250 milligrams per day, or two to three cups of coffee daily; most experts agree that a cup or two of java or iced tea—an hour before your daily walk, run, or workout session—can make the task seem easier.

Is coffee, cola, or tea part of your daily routine? Have you noticed whether caffeine helps fuel your workouts or recovery?

By Amanda MacMillan

(living.health.com)

(PHOTO: GETTY IMAGES)

How to Bench Better Now

The biggest guy in the gym doesn't always bench the most weight. It's the guy who knows how to bench. Great technique allows you to press more poundage without injuring your shoulders. Take these tips with you every time you get beneath that bar.

BREATHE
Take a deep breath before you lower the bar to begin each rep. Let the air fill up in your belly and hold it. This increases intra-abdominal pressure, stabilizing the spine and creating a tight feeling throughout the body that will make you instantly stronger. You'll get a springlike effect when the bar reaches your chest. Attempting to take the breath while lowering the bar(as most of us do) will cause you to lose some tightness. Note, however, that you may want to hold the breath if you have high blood pressure.

PULL
Don't let gravity lower the bar for you. Pull it downward by engaging your lats. Think about leading with your elbows and keep them tucked close to your sides. Your upper arms should form a 45-degree angle to your torso when the bar is at your lower chest (don't bring it down to your mid pecs, but to the sternum).

PRESS
Lift in an arching motion. As you press the bar up, think about pushing it from your sternum toward your face. This brings the triceps more into play. You'll need to find your body's own "groove" so that, at the top of the movement, the bar is in a direct line above your shoulders, where it should feel almost weightless.(by Matt McGorry, C.F.T/mensfitness)

Selasa, 27 Oktober 2009

Legenda El Dorado

Legenda El Dorado terjerat Sir Walter Raleigh

Nafsu untuk emas meliputi semua era, ras, dan kebangsaan. Untuk memiliki jumlah emas pun tampaknya memicu keinginan yang tak terpuaskan untuk mendapatkan lebih.

Photo: Gold artwork

Gold Muisca artwork in Colombian museum

Photograph by Mauricio Duenas/AFP/Getty Images




Selama berabad-abad, gairah ini memunculkan kisah abadi dari sebuah kota emas. Pada abad 16 dan 17, Eropa percaya bahwa di suatu tempat di Dunia Baru ada tempat kekayaan besar yang dikenal sebagai El Dorado. Mereka mencari harta ini terbuang sia-sia kehidupan yang tak terhitung jumlahnya, mengemudi sekurang-kurangnya satu orang untuk bunuh diri, dan menempatkan orang lain di bawah kapak algojo.

"El Dorado bergeser lokasi geografis sampai akhirnya hal itu hanya berarti sumber kekayaan yang tak terhitung di suatu tempat di Amerika," kata Jim Griffith, seorang folklorist di Tucson, Arizona.

Tapi tempat ini beragam kekayaan belum ditemukan.

Asal usul El Dorado terletak jauh di Amerika Selatan. Dan seperti semua abadi legenda, kisah El Dorado berisi beberapa potongan-potongan kebenaran. Ketika penjelajah Spanyol mencapai Amerika Selatan pada awal abad ke-16, mereka mendengar cerita tentang suku pribumi tinggi di pegunungan Andes di wilayah yang sekarang Kolombia. Ketika kepala suku baru naik ke tampuk kekuasaan, pemerintahannya dimulai dengan upacara di Danau Guatavita. Account upacara berbeda, tetapi mereka konsisten mengatakan penguasa baru dengan emas tertutup debu, dan bahwa emas dan perhiasan berharga dilemparkan ke dalam danau untuk menenangkan dewa yang hidup di bawah air.

Orang Spanyol mulai menyebut kepala emas ini El Dorado, "berlapis emas satu." Upacara orang berlapis emas dianggap berakhir pada akhir abad ke-15 ketika El Dorado dan rakyatnya ditaklukkan oleh suku lain. Tetapi orang-orang Spanyol dan Eropa lainnya telah menemukan begitu banyak emas di antara penduduk pribumi di sepanjang pantai utara benua mereka percaya bahwa harus ada tempat yang sangat kaya di suatu tempat di pedalaman. Orang-orang Spanyol tidak menemukan El Dorado, tetapi mereka tidak menemukan Danau Guatavita dan mencoba untuk menguras itu tahun 1545. Mereka menurunkan tingkat yang cukup untuk menemukan ratusan keping emas di sepanjang tepi danau. Tapi hebat dugaan harta di air yang lebih dalam berada di luar jangkauan mereka.

Raleigh's Quest

Punggawa Inggris Sir Walter Raleigh yang dibuat dua kali ke Guyana untuk mencari El Dorado. Selama perjalanan kedua pada 1617, ia mengirim putranya, Watt Raleigh, dengan sebuah ekspedisi menyusuri Sungai Orinoco. Tapi Walter Raleigh, kemudian seorang lelaki tua, tinggal di belakang di sebuah base camp di pulau Trinidad. Ekspedisi adalah bencana, dan Raleigh Watt tewas dalam pertempuran dengan orang Spanyol. Eric Klingelhofer, seorang arkeolog di Mercer University di Macon, Georgia, kata Walter Raleigh sangat marah pada korban yang memberitahu dia tentang kematian Watt dan menuduh korban membiarkan anaknya akan dibunuh. "Orang masuk ke dalam kabin di kapal dan membunuh dirinya sendiri," kata Klingelhofer, yang mencoba untuk menemukan tempat Raleigh's base camp di Trinidad.

Raleigh kembali ke Inggris, di mana Raja James memerintahkan dia dipenggal untuk, antara lain, tidak mematuhi perintah untuk menghindari konflik dengan Spanyol.

Legenda El Dorado bertahan karena "Anda ingin itu benar," kata Jose Oliver, seorang dosen di Institut Arkeologi di University College London. "Saya rasa kita tidak pernah berhenti mencari El Dorado."

Jadi di mana kota hilang ini emas? Dalam puisi 1849 "El Dorado," penulis Edgar Allan Poe menawarkan saran menakutkan dan fasih: "Selama Mountains of the Moon, menuruni Lembah Bayang-Bayang, naik, dengan berani naik ... jika Anda mencari El Dorado."
(Willie Drye/NatGeo)

"Mummy's Curse" Legend Won't Die

Movie mummies are known for two things: fabulous riches and a nasty curse that brings treasure hunters to a bad end. But Hollywood didn't invent the curse concept.

Photo: Mummy of King Tutankhamun

Mummy of King Tutankhamun

Photograph by Kenneth Garrett

The "mummy's curse" first enjoyed a worldwide vogue after the 1922 discovery of King Tutankhamun's tomb in the Valley of the Kings near Luxor, Egypt.

When Howard Carter opened a small hole to peer inside the tomb at treasures hidden for 3,000 years, he also unleashed a global passion for ancient Egypt.

Tut's glittering treasures made great headlines—and so did sensationalistic accounts of the subsequent death of expedition sponsor Lord Carnarvon.

In reality, Carnarvon died of blood poisoning and only six of the 26 people present when the tomb was opened died within a decade. Carter, surely any curse's prime target, lived until 1939.

But while the pharaoh's curse may lack bite, it hasn't lost the ability to fascinate audiences—which may be how it originated in the first place.

Birth of the Curse

The late Egyptologist Dominic Montserrat conducted a comprehensive search and concluded that the concept began with a strange "striptease" in 19th-century London.

"My work shows quite clearly that the mummy's curse concept predates Carnarvon's Tutankhamen discovery and his death by a hundred years," Montserrat told theIndependent (U.K.) in an interview some years before his own death.

Montserrat believed that a lively stage show in which real Egyptian mummies were unwrapped inspired first one writer, and subsequently several others, to pen tales of mummy revenge.

The thread was even picked up by Little Women author Louisa May Alcott in her nearly unknown volume Lost in a Pyramid; or, The Mummy's Curse.

"My research has not only confirmed that there is, of course, no ancient Egyptian origin of the mummy's curse concept, but, more importantly, it also reveals that it didn't originate in the 1923 press publicity about the discovery of Tutankhamen's tomb either," Montserrat stressed to the Independent.

But Salima Ikram, an Egyptologist at the American University in Cairo and a National Geographic Society grantee, believes the curse concept did exist in ancient Egypt as part of a primitive security system.

She notes that some mastaba (early non-pyramid tomb) walls in Giza and Saqqara were actually inscribed with "curses" meant to terrify those who would desecrate or rob the royal resting place.

Photo: King Tutankhamun's coffin

King Tutankhamun's coffin

Photograph by Kenneth Garrett

"They tend to threaten desecrators with divine retribution by the council of the gods," Ikram said. "Or a death by crocodiles, or lions, or scorpions, or snakes."

Tomb Toxin Threat?

In recent years some have suggested that the pharaoh's curse was biological in nature.

Could sealed tombs house pathogens that can be dangerous or even deadly to those who open them after thousands of years—especially people like Lord Carnarvon with weakened immune systems?

The mausoleums house not only the dead bodies of humans and animals but foods to provision them for the afterlife.

Lab studies have shown some ancient mummies carried mold, including Aspergillus niger and Aspergillus flavus, which can cause congestion or bleeding in the lungs. Lung-assaulting bacteria such as Pseudomonas and Staphylococcus may also grow on tomb walls.

These substances may make tombs sound dangerous, but scientists seem to agree that they are not.

F. DeWolfe Miller, professor of epidemiology at the University of Hawaii at Manoa, concurs with Howard Carter's original opinion: Given the local conditions, Lord Carnarvon was probably safer inside Tut's tomb than outside.

"Upper Egypt in the 1920s was hardly what you'd call sanitary," Miller said. "The idea that an underground tomb, after 3,000 years, would have some kind of bizarre microorganism in it that's going to kill somebody six weeks later and make it look exactly like [blood poisoning] is very hard to believe."

In fact, Miller said, he knows of no archaeologist—or a single tourist, for that matter—who has experienced any afflictions caused by tomb toxins.

But like the movie mummies who invoke the malediction, the legend of the mummy's curse seems destined never to die.

(Brian Handwerk / NatGeo)

Tidak Ada Dokumen Otentik Tentang Sumpah Pemuda

http://lh3.ggpht.com/hutasoit/SQZTfol2faI/AAAAAAAAAlk/xSVK_kYoncw/SumpahPemuda7.png
Medan (ANTARA News) - Sumpah pemuda yang diperingati setiap tahun oleh bangsa ini ternyata tidak memiliki dokumen dan bukti sejarah otentik, yang ada adalah keputusan rapat pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

"Berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada satu baris pun ditulis kata Sumpah Pemuda dan para pemuda juga tidak sedang melakukan sumpah saat itu," kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil Ichwan Azhari, di Medan, Selasa.

Ia mengatakan, berdasarkan catatan dan dokumen sejarah diketahui bahwa hari Sumpah Pemuda yang diperingati sebagai peristiwa nasional, merupakan suatu hasil rekontruksi dari para "Bapak Pembangun Bangsa" ini yang didasarkan pada ideologi-ideologi dari generasi yang berbeda.

"Dalam arti bahwa peristiwa 28 Oktober 1928, yang diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda adalah rekontruksi simbol yang sengaja dibentuk kemudian setelah sekian lama peristiwa tersebut berlalu, yaitu adanya pembelokan kata `Poetoesan Congres` menjadi kata `Sumpah Pemuda`, " katanya.

Lebih lanjut Ichwan mengatakan, apabila teks asli hasil kongres pemuda 28 Oktober 1928 diteliti maka tidak akan ditemukan kata sumpah pemuda melainkan Poetoesan Congres.

Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai cara Soekarno untuk memberi peringatan keras kepada dalang gerakan separatis yang mulai muncul menentang keutuhan Bangsa Indonesia.

Dalam arti bahwa, pembelokan kata "Poetoesan Congres" menjadi kata "Sumpah Pemuda" ditujukan dan digunakan sebagai senjata ideologi terhadap pihak separatis yang dinyatakan melanggar sumpah pemuda tahun 1928.

Sebagaimana diketahui, lanjutnya, bahwa pada tanggal 28 Oktober 1954, Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin membuka Kongres Bahasa Indonesia yang kedua di Medan, dan Yamin dalam kapasitasnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Ali Sastroamijoyo memberikan pidato pembukaan.

Pada saat itu, Soekarno dan Yamin, sedang membangun simbol yang menjadi bagian dari susunan ideologi sebuah bangsa dan negara, dimana pilihannya jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928 dan saat itu pula kata "Poetoesan Congres" dibelokkan menjadi "Sumpah Pemuda".

Sejak saat itu yakni tahun 1954, tanggal 28 Oktober dianggap sebagai hari kelahiran sumpah pemuda untuk pertama kalinya.

"Dengan kata lain bahwa Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan tahun 1954 itu, telah menjadi awal yang menganggap tanggal 28 Oktober 1928 sebagai hari kelahiran Sumpah Pemuda," katanya.

Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, pada intinya pembelokan kata Poetoesan Congres menjadi Sumpah Pemuda adalah sebagai upaya untuk membentuk kesadaran nasional atas kemerdekaan bangsa ini.

Namun demikian, tidak semestinya peristiwa tersebut melahirkan kontroversi baru dalam pembelajaran sejarah nasional Indonesia yang sudah semestinya mendapat penjelasan yang baik dalam pembelajaran sejarah Indonesia.

"Ini berarti bahwa perlu dilakukan pengkajian dan penelitian komprehensif sehingga peristiwa 28 Oktober 1928 tersebut dapat dipahami secara detail dan benar,"katanya.(*)/Antara.