my banner link

Sabtu, 13 Maret 2010

Saya adalah kebiasaan


Saya selalu mendampingi anda. Saya adalah pembantu anda yang paling rajin, atau beban anda yang paling berat. Saya akan mendorong anda maju, atau menarik anda jatuh ke dalam jurang kegagalan.

Saya sepenuhnya ada dalam kendali anda. Setengah dari apa yang anda lakukan mungkin akan anda serahkan kepada saya, dan saya akan melakukannya dengan cepat, tepat. Saya mudah dikelola -anda hanya perlu tegas terhadap saya. Tunjukkan bagaimana tepatnya anda ingin agar sesuatu dikerjakan, dan setelah beberapa pelajaran saya akan melakukannya secara otomatis.

Saya adalah pelayan bagi semua orang hebat; dan apa boleh buat, juga bagi orang-orang gagal. Mereka yang gagal, saya yang membuat mereka gagal. Saya bukan mesin, sekalipun saya bekerja dengan presisi dari sebuah mesin ditambah kecerdasan manusia. Anda mau mendayagunakan saya dan mendapatkan keuntungan, atau memanfaatkan saya untuk kehancuran - hal itu tidak ada bedanya bagi saya. Ambil saya, latih saya, tegaslah terhadap saya, dan saya akan meletakkan dunia dibawah kaki anda. Anggap enteng saya dan saya akan menghancurkan anda.

Siapa saya? Saya adalah kebiasaan.

Kamis, 11 Maret 2010

Sutradara Perempuan Pertama yang Merebut Oscar

"Dan pemenangnya adalah...," demikian ucap aktris dan penyanyi senior Barbra Streisand, yang menjadi pembaca nama pemenang Sutradara Terbaik Oscar/Academy Awards, Minggu (7/3) di Kodak Theatre, Los Angeles, AS. Ia membuka amplop dan langsung tersenyum lebar. "Nah, waktunya sudah datang," katanya ceria. Lalu, ia menyebutkan nama pemenang kategori tersebut: Kathryn Bigelow.
Kathryn dan Barbra
Luar biasa! Inilah perempuan pertama yang terpilih sebagai sutradara terbaik dalam 82 tahun sejarah penyelenggaraan Academy Awards.
**
Info untuk Anda, Kathryn membuat film drama independent/indie berirama cepat, yang berkisah tentang perjuangan tentara AS di Irak. Judulnya, Hurt Locker. Biaya pembuatannya "hanya" 11 juta dolar AS. Inilah film dengan biaya produksi terendah sepanjang sejarah, yang mampu menembus Oscar-menang pula sebagai Film Terbaik (mengandaskan film Avatar yang dibuat dengan biaya supermahal, yakni 300 juta dolar AS) dan secara total menyabet 6 piala Oscar.
Sebagai sutradara terbaik, bisa dibilang, Kathryn sukses menyisihkan empat saingannya yang semuanya pria; yaitu James Cameron yang mengarahkan film "Avatar", Quentin Tarantino ("Inglorious Basterds"), Lee Daniels ("Precious"), dan Jason Reitman ("Up in the Air"). Oh ya, tahukah Anda, dahulu James merupakan pasangan hidup Kathryn?
**
Sesaat setelah diumumkan sebagai pemenang Sutradara Terbaik, dengan ekspresi wajah tak percaya, Kathryn naik ke atas panggung untuk menerima Oscar. Dengan terbata-bata, pengajar di San Francisco Art Institute ini mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak dan mendedikasikan penghargaan itu untuk para tentara AS yang sedang bertugas di Irak, serta Afghanistan. 
Kathryn Bigelow
"Ini adalah peristiwa sekali seumur hidup, suatu momentum dalam kehidupan," ucap Kathryn.
Kemudian di belakang layar, ia mengatakan harapannya, yaitu banyak perempuan lain yang akan mengikuti jejaknya: menerima penghargaan tertinggi sebagai sutradara, di ajang penghargaan paling bergengsi untuk para pekerja film AS tersebut.
"Saya selalu menganggap diri saya sebagai pembuat film! Saya bersyukur bila dapat menginspirasi para bakat muda, laki-laki maupun perempuan, dan membuat mereka merasa yang mustahil dalam meraih sesuatu menjadi yakin bahwa segalanya bisa kita raih," paparnya. "Jika ada memandang sebelah mata terhadap perempuan sutradara, saya hanya bisa memilih untuk mengabaikan isu itu dengan dua alasan: saya tak bisa mengubah status gender saya dan saya menolak untuk berhenti membuat film. Tak relevan untuk bicara siapa yang menyutradarai film. Ini persoalan apakah kamu mau menghargai film itu atau tidak!"
Lalu ia menjelaskan, "Film adalah media yang baik untuk menyatakan sesuatu. Dengan film, kita bisa menyampaikan pemikiran kepada masyarakat dunia. Misalnya, perang adalah sesuatu yang tercela..."
Lebih lanjut, Kathryn mengungkapkan rahasia suksesnya. Katanya, ia tipe sutradara yang selalu memulai membuat film dengan riset kondisi sosial masyarakat. Dia juga tipikal sutradara yang suka mengambil sudut pandang orang pertama.
"Dalam The Hurt Locker, saya tak bicara politik," pungkas Kathryn. "Saya juga tidak bicara soal keputusan di tingkat elite/pengambil kebijakan. Saya hanya mengangkat detail apa yang dilakukan tiga serdadu penjinak bom di medan perang. Ini bukan film tentang kekerasan, melainkan film tentang tugas dan pertempuran hidup di tengah tekanan luar biasa."
Pendapat atau sudut pandang Kathryn tak salah. Setidaknya, para juri Academy Awards menganggap film indie karyanya merupakan film berkualitas nomor satu. Pun, Kathryn dinilai sebagai sutradara yang luar biasa dan individu berwawasan luas.
Bagaimana pendapat Anda? 
 
*) photos credit: getty images
source: Andriwongso 

The White Tiger, Buku Kisah Menuju Kesuksesan yang Penuh Tawa

foto berita artikel Sudah menjadi adat orang di negara saya untuk mulai bercerita dengan berdoa kepada Yang Kuasa.
Yang Mulia, saya rasa saya juga harus memulai dengan "menjilat bokong dewa"
Masalahnya ,dewa yang mana? Ada begitu banyak pilihan.
Ada kaum yang mengakui memiliki satu Tuhan
Ada juga yang dianggap memiliki tiga Tuhan.
Sementara, kami punya 36.000.000 dewa-dewi.
Jadi, saya harus memilih dari total 36.000.004 bokong suci.”

Seperti itulah salah satu kutipan yang ada dalam satu cerita dalam novel The White Tiger. The White Tiger,merupakan karya dari Aravind Adiga seorang penulis novel dari India. The White Tiger merupakan karya pertama Adiga. Dengan kemenangan Adiga, maka dia merupakan orang berkebangsaan India yang ke -4 yang memenangkan award skala international setelah Arundati Roy, dan sebagainya.

Balram, orang pinggiran yang hampir separuh hidupnya dinikmati dalam kerumitan, kemiskinan, dan jadi babu. sampai pada suatu ketika keadaan itu berbalik 180 derajat. menjadi sopir pribadi Ashok adalah langkah awalnya menuju gerbang kesuksesan. namun, semua keberhasilan memang membutuhkan pengorbanan dalam berbagai cara. dan, balram memilih majikannya, ashok, menjadi korban demi keberhasilannya.

Novel satire ini begitu dalam namun ditampilkan dengan gaya bahasa yang kocak. anda bisa tertawa terpingkal-pingkal dan lalu terenyuh setelahnya. Cerita dari novel yang berhasil meraih penghargaan bookman prize ini segambar dengan keadaan negeri kita Indonesia.
source: beritanet

Sabtu, 06 Maret 2010

Bebener yang Dibuat Sungsang Bawana Balik

image 

DIANGGEP bener tidak selalu karena telah berbuat benar. Dianggep salah juga tidak melulu karena telah bertindak keliru. Selalu berusaha berbuat bener bisa saja ujungnya selalu ora kepeneran. Bener dianggep keliru, luput dianggep bener pun makin jamak terjadi.

Dalam kisah pewayangan, apa yang salah ketika Sukasrana menyusul kakaknya, Sumantri, yang hendak menjadi urban di Kotapraja Maespati? Apa salah si buruk rupa namun berhati berlian itu ketika merasa tak bisa ginggang sarambut pinara sasra dari sang kakak yang tampan rupawan?

Pastilah, dalam ukuran kewajaran, tidak ada yang salah. Mencintai saudara dengan sepenuh jiwa dan ingin selalu bersama dengannya pastilah sikap mulia. Lebih-lebih ketika menyediakan diri untuk selalu memanggul setiap bot-repot yang dipikul sang kakak.

Namun ukuran kewajaran itu tidak begitu berlaku bagi Sumantri. Ambisi untuk bisa tampil hero seorang diri di hadapan banyak orang, terutama atasan, telah membutakan mata hati untuk melihat setiap kemuliaan yang didermakan dengan tulus oleh Sukasrana.

Sukasrana selalu dianggap sebagai klilip, kalau bukan malah rintangan yang hanya nyandhung-nyrimpeti. Karena itu, setiap sumbang sih-nya akan selalu dipandang ora pener.

Puncaknya ketika Sukasrana menyembul di antara perdu Taman Sriwedari, buah karyanya sendiri. Sumantri merasa penampakan Sukasrana adalah sebuah aib di tengah serbagemerlap kuasa negeri Maespati. Sumantri panik. Sumantri cemas citra sempurna yang telah ia bangun bakal sirna oleh kehadiran Sukasrana si buruk rupa.

Sumantri lupa bahwa adiknyalah yang telah memutar taman itu hingga ia dapat memenuhi titah sang raja. Namun segala jasa Sukasrana terkubur dalam-dalam oleh anggapan yang dibangun di atas ambisi akan kekuasaan yang hendak ia amankan. Sumantri menghunus keris dan mengarahkan ujungnya ke tubuh Sukasrana. Para dalang kerap kali menyebut Sumantri sekadar ngagak-agaki, meden-medeni, menakut-nakuti agar Sukasrana pergi.

Toh, Sukasrana tetap bergeming. Tajamnya keris tak menghalanginya untuk merapat dan dekat dengan sang kakak. Justru pada ujung keris itulah Sukasrana mengabarkan kepada semua bahwa cinta dan keterusterangannya bakal menjelma jadi keabadian.

Dusta Nagagini

Soal kebenaran yang dipersalahkan, kesalahan yang dicarikan pembenaran, kisah Anglingdarma bisa menjadi cerminnya. Tatkala lelana brata masuk di hutan belantara, dia justru mendapati Nagagini, istri Nagaraja sahabatnya, tengah memadu kasih dengan Ula Tampar.

Melihat perselingkuhan itu, dia merasa tak bisa berdiam diri. Dijemparinglah sang pecundang Ula Tampar hingga mengenai bagian buntut. Upaya itu dimaksudkan sebagai usaha untuk mengingatkan Nagagini sekaligus menghukum Ula Tampar yang telah ngrusak pager ayu.

Namun tindakan Anglingdarma bukannya membuat Nagagini sadar, melainkan justru  mendorongnya wadul kepada sang suami. Dhandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dhandhang; hitam dikatakan putih, sebaliknya putih dikatakan hitam.

Kepada suaminya, Nagagini berkata bahwa Anglingdarma berniat menjamahnya. Adapun Ula Tapar yang hendak mengingatkan, justru dijemparing oleh Raja Malawapati itu.

Tentu saja sikap Nagagini membuat Anglingdarma berkecil hati. Ia tidak membayangkan jika Nagaraja yang telah direngkuh sebagai kakaknya itu murka, pastilah dia akan lebur tanpa dadi.

Karena itu, di tamansari Malawapati, kepada Setyawati permaisurinya, Anglingdarma bercerita tentang hal yang sebenarnya, sekaligus berpamitan karena marasa tak lama akan menemui ajal. Sementara di luar terdengar suara keras Nagaraja memanggil-manggil agar Anglingdarma segera keluar menemui.

Setelah beberapa saaat, dengan segenap keputusasaan, keluarlah Anglingdarma dari tamansari guna menemui Nagaraja. Namun di luar dugaan, Nagaraja justru menyambut adiknya itu dengan pelukan hangat. Kepada Anglingdarma, Nagaraja malahan menganugerahkan Aji Gineng, yakni ajian yang membuat pemiliknya bisa memahami bahasa segala binatang.

Ternyata sebelum memanggil-manggil, dengan menyamar sebagai ular picis, Nagaraja telah menyadap pembicaraan Anglingdarma dengan Setyawati. Dari situlah ia tahu, apa yang dikatakan oleh istrinya dusta belaka.

Persekongkolan

Pemutarbalikan kebenaran, sebagaimana yang dilakukan oleh Nagagini,  kerapkali tidak hanya dilakukan oleh seorang diri. Ada yang menjadi perancang skenario, ada yang kemudian menjalankannya.

Pada lakon ketoprak Bayi Lair Sajroning Kubur yang dimainkan oleh grup Sapta Mandala Yogyakarta kiranya menandaskan hal itu. Jayengkusuma, putra mending Prabu Ranggajaya dari prameswari yang telah meninggal dan Jayengrasa, putra garwa prameswari sambungan (Asmarawati), terlibat dalam kompetisi untuk memegang tampuk pemerintahan Jenggala. Syaratnya, bisa mempersembahkan Keris Nagarunting Luk Sanga.

Keris itu berada di Pertapan Tegalwening. Jayengrasa terlebih dahulu sampai di situ, bertemu dengan Retnasih, anak pertapa pemilik keris sakti itu. Malahan Jayengrasa jatuh cinta pada Retnasih, namun endang pertapan itu menolak halus. 

Selang beberapa saat datanglah Jayengkusuma, bertemu sang pertapa dan mendapatkan Keris Nagarunting serta mempersunting Retnasih. Jayengkusuma pun bertakhta dan menjadikan Retnasih sebagai permaisuri.
Tak lama setelah bertakhta, datanglah pasukan Prabu Gajah Angun-angun yang hendak menaklukkan Jenggala. Prabu Jayengkusuma berangkat ke medan laga dan meninggalkan Retnasih di keraton.

Itulah saat yang ditunggu oleh Asmarawati dan Jayengrasa yang merasa cintanya ditolak oleh Retnasih. Mereka menyiksa Retnasih yang sedang mengandung. Ujung-ujungnya Retnasih meninggal. Jasadnya dikubur di sebuah pemakaman jauh dari keraton.

Ketika Jayengkusuma pulang dari medan laga, tentu saja Asmarawati yang ditopang oleh Patih Basunanda memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Namun dengan kemunculan bayi yang lahir dalam kuburan, akhirnya terkuaklah persekongkolan itu.

Ya, siapa pun meski selalu gandrung pada kebenaran, bisa kena awu anget sebagaimana yang dialami oleh Anglingdarma ataupun Retnasih. Namun dalam sungsang bawana balik kebenaran macam apa pun, tetap saja berlaku hukum ”becik kettitik ala ketara”, ”sapa salah seleh”, dan ”tekuk runtut janaloka, sapa wani luput bakal ketiban pidana”. 
—Sucipto Hadi Purnomo, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang
Source: Suara Merdeka

Jumat, 05 Maret 2010

Nick Vujicic - No Arms, No Legs, No Worries...Bagaimana dengan Kita?

Inilah cerita dari seorang pria tampan dan cerdas, serta bersuara indah, yang dilahirkan tanpa kedua lengan dan kedua kaki. Namun ia tetap bersemangat dan bahagia dalam menjalani hidupnya. Ia jago main golf, berselancar, dan berenang. Terlebih, ia juga sukses dalam karirnya. Nick Vujicic (26 tahun), pria Serbia kelahiran Australia itu, memang luar biasa!!

Nick lahir di sebuah rumah sakit di Kota Melbourne pada tanggal 4 Desember 1982. Orangtuanya sangat terkejut ketika melihat keadaan putra mereka yang lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut dokter yang menanganginya, Nick terkena penyakit Tetra-amelia yang sangat langka. Kondisi ini kontan membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer komputer) dan ibu Nick (seorang perawat) bertanya-tanya dalam hati, kesalahan besar apa yang telah mereka perbuat hingga putranya terlahir tanpa anggota-anggota tubuh. Tak jarang, mereka menyalahkan diri sendiri atas keadaan Nick.

Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Ayah dan ibu Nick melihat putranya, biarpun cacat tubuh, tetap tumbuh kuat, sehat, dan ceria - sama seperti anak-anak lainnya. Dan, Nick kecil terlihat begitu tampan serta menggemaskan! Matanya pun sangat indah dan menawan. Maka, mereka mulai bisa menerima keadaan putranya, mensyukuri keberadaannya, dan segera mengajarinya untuk hidup mandiri.

   
Nick memiliki sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Sang ayah membimbingnya untuk berdiri, menyeimbangkan tubuh, dan berenang sejak Nick berusia 18 bulan. Kemudian, dengan tekun dan sabar, sejak usia 6 tahun, Nick belajar menggunakan jari-jari kakinya untuk menulis, mengambil barang, dan mengetik. Kini, Nick menyebut telapak kakinya yang berharga itu sebagai "my chicken drumstick."

Agar bisa hidup lebih mandiri, kuat secara mental, dan bisa bergaul dengan luwes, ibu Nick memasukkan putranya ke sekolah biasa. Segera saja, Nick menyadari bahwa keadaannya sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia juga mengalami berbagai penolakan, ejekan, dan gertakan dari teman-teman sekolahnya. Hal ini membuatnya merasa begitu sedih dan putus asa. Pada usia 8 tahun, Nick sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, kasih dan dukungan orangtuanya, serta hiburan dari para sahabatnya, mampu membuat Nick mengenyahkan pikiran tersebut. Ia menjadi lebih bijaksana dan berani dalam menjalani kehidupan.
Pada suatu pagi, saat usia 12 tahun, Nick mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat bangun dan membuka matanya, tiba-tiba saja ia menyadari betapa beruntungnya dirinya. Ia sehat, serta punya keluarga dan para sahabat yang menyayanginya. Ia juga hidup dalam keluarga yang berkecukupan.

Setahun kemudian, ketika membaca surat kabar, Nick dan ibunya menemukan sebuah artikel yang sangat menggugah jiwanya. Artikel itu, berkisah tentang seorang pria cacat tubuh yang mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang. "Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk berguna bagi orang lain. Saya memutuskan untuk bersyukur, bukannya marah, atas keadaan diri sendiri! Saya juga berharap, suatu saat bisa menjadi seperti pria luar biasa itu-yakni bisa menolong dan menginspirasi banyak orang!" demikian ujar Nick, dalam sebuah wawancara.
Untuk meraih mimpinya, Nick belajar dengan giat. Otak yang encer, membantunya untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan pada usia 21 tahun. Segera setelah itu, ia mengembangkan lembaga non-profit ‘Life Without Limbs' (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh), yang didirikannya, pada usia 17 tahun, untuk membantunya berkarya dalam bidang motivasi. 

Kini, Nick Vujicic adalah motivator/pembicara internasional yang gilang-gemilang. Ia sudah berkeliling ke lebih dari 24 negara di empat benua (termasuk Indonesia), untuk memotivasi lebih dari 2 juta orang-khususnya kaum muda. Berkali-kali, ia diwawancarai oleh stasiun televisi dengan jangkauan internasional, seperti ABC (pada 28 Maret 2008). Produknya yang terkenal adalah DVD motivasi "Life's Greater Purpose", "No Arms, No Legs, No Worries", serta film "The Butterfly Circus."
"Saya telah memberikan berbagai jenis motivasi kepada orang-orang, berdasarkan pengalaman hidup saya," pungkas Nick di akhir wawancara. "Namun, ada satu hal yang selalu saya katakan pada mereka: ‘Terimalah dan cintai diri kamu sendiri.' Jika satu orang saja bisa melakukannya, kemudian merasa lebih bersemangat dalam menjalani hidup serta ingin berguna bagi orang lain, saya merasa bahwa sebagian tugas saya di dunia ini telah terselesaikan."
source: Andri W

Rabu, 03 Maret 2010

Kedahsyatan Berpikir Positif


Berpikir Positif
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara manusia dan binatang. Manusia mampu melakukan apa yang disebut berpikir, jika binatang tidak. Jadi kemanusiaan seseorang itu bukan pada wujud fisiknya, melainkan pada pikirannya. Manusia bisa seperti binatang karena pikirannya dan sebaliknya manusia bisa seperti malaikat karena pikirannya juga. Sehingga muatan-muatan dalam pikiran manusia itulah yang menentukan nasib manusia itu sendiri. “Nasibmu tidak ditentukan oleh dimana kamu berada tetapi oleh apa yang mengisi pikiranmu”.
Bahkan “Pikiran adalah sebuah tempat dimana anda bisa menciptakan neraka dan surga untuk hidup anda” (John Milton, 1608 – 1674)
Untuk itu nikmati saja hidup anda.
Agar bisa menikmati hidup menjadi enak, kita harus bisa berpikir positif. Berpikir positif mencakup 3 pengetian, al :
Pertama, muatan pikiran harus positif dengan kriteria : benar, baik dan bermanfaat
Sering kali seseorang tidak menyadari muatan-muatan apa yang dimasukkan kedalam pikirannya. Ini sangat penting, karena muatan pikiran itulah yang nantinya akan mengkristal menjadi kenyataan. Jadi dengan mengisi hal-hal yang positif ke dalam pikiran, minimal akan memunculkan sikap yang positif. Dari sikap yang positif akan melahirkan tindakan yang positif. Kalau tindakan ini dilakukan setiap saat…setiap hari, akan menjadi kebiasaan yang positif. Dari kebiasaan ini melahirkan karakter diri. Karakter inilah yang pada akhirnya akan mencetak nasib seseorang.
Kedua, penggunaan pikiran. Dengan memasukkan hal-hal yang positif kedalam pikiran tidaklah cukup, apabila tidak disertai dengan memanfaatkan pikiran yang positif dimaksud. Contohnya, apabila suatu ketika kita gagal, terus kita berpikir “ya sudahlah…namanya belum diijinkan oleh Tuhan”. Pemahaman ini sudah baik, tetapi akan lebih baik lagi kalau pemahaman tersebut digunakan untuk mencari cara lain yang lebih baik agar berhasil. Agama mengajarkan bahwa beriman pada takdir tidak sama dengan pasrah pada realitas/keadaan. Iman kepada takdir, artinya menerima realitas kemudian berupaya untuk memperbaiki atas dasar keimanan. Pasrah pada realitas, artinya hanya menerima apa yang telah terjadi tanpa ada tindakan perbaikan. Secara psikologis pasrah kepada Tuhan itu positif, tetapi pasrah pada realitas itu tidak baik.
Dengan kata lain, kita wajib beriman pada takdir tetapi tidak pasrah pada kenyataan. Sehingga dari pikiran yang positif kita akan melakukan hal-hal positif guna merealisasikan tujuan yang positif dengan mengembangkan potensi positif untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul secara positif, kreatif dan konstruktif.
Ketiga, pengawasan pikiran. Hal ini penting karena tidak ada orang di dunia ini yang muatan pikirannya selalu positif setiap saat. Apalagi ketika seseorang mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan keinginan/target. Kebanyakan orang, pada awalnya akan menyalahkan pada kondisi atau orang lain yang diajak berinteraksi yang menyebabkan hasilnya tidak seperti yang diharapkan (pemikiran negatif). Pemikiran negatif tidak akan terjadi bilamana kedalam pikiran kita sudah dimasukkan nilai-nilai hidup atau falsafah hidup yang mampu membentuk jatidiri dan karakter positif.
Makanya ada yang mengatakan bahwa “nasib yang diterima hari ini adalah merupakan hasil pemikiran di masa lalu”. Pemikiran disini bukanlah pemikiran yang muncul saat-saat tertentu, melainkan pemikiran yang sudah menjadi budaya hidup.
“Saya bukan ahlinya, tetapi saya hanya ingin berbagi apa yang saya ketahui walau hanya sedikit”
source: A.N Ubaedy

Jumat, 26 Februari 2010

The Great Secret Of Dieting


"Diet bukanlah mengurangi makan, tetapi mengatur pola makan." Inilah yang sering saya sampaikan dalam berbagai seminar.

Reaksi terkejut dari yang hadir mengisyaratkan bahwa masih banyak yang berpendapat keliru bahwa diet itu artinya mengurangi makan. Saya sangat memaklumi masih banyak yang memegang teguh pada pendapat yang keliru ini, karena sebenarnya ia timbul dari suatu pola pemikiran yang logis: kalau gemuk terjadi akibat banyak makan, maka untuk kurus harus melakukan sebaliknya.

Tetapi logika ini tidak sepenuhnya sejalan dengan sains. Karena jika logika tersebut benar, sudah banyak orang yang sukses menurunkan kadar lemaknya dengan cara tersebut. Sains bahkan mengkonfirmasikan bahwa pendekatan mengurangi makan untuk menurunkan berat badan adalah cara yang tidak sehat (berbahaya), tidak mungkin bertahan lama, dan akan mengakibatkan kegemukan yang lebih lagi apabila berhenti.

"Salah satu rahasia besar diet adalah adanya makanan yang memiliki volume dan gizi tinggi namun berkalori rendah. Jenis makanan inilah yang akan membawa pada diet yang sukses, sehat, dan bisa dijalankan seumur hidup. - Ade Rai

source: Ade Rai