my banner link

Rabu, 03 Maret 2010

Kedahsyatan Berpikir Positif


Berpikir Positif
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara manusia dan binatang. Manusia mampu melakukan apa yang disebut berpikir, jika binatang tidak. Jadi kemanusiaan seseorang itu bukan pada wujud fisiknya, melainkan pada pikirannya. Manusia bisa seperti binatang karena pikirannya dan sebaliknya manusia bisa seperti malaikat karena pikirannya juga. Sehingga muatan-muatan dalam pikiran manusia itulah yang menentukan nasib manusia itu sendiri. “Nasibmu tidak ditentukan oleh dimana kamu berada tetapi oleh apa yang mengisi pikiranmu”.
Bahkan “Pikiran adalah sebuah tempat dimana anda bisa menciptakan neraka dan surga untuk hidup anda” (John Milton, 1608 – 1674)
Untuk itu nikmati saja hidup anda.
Agar bisa menikmati hidup menjadi enak, kita harus bisa berpikir positif. Berpikir positif mencakup 3 pengetian, al :
Pertama, muatan pikiran harus positif dengan kriteria : benar, baik dan bermanfaat
Sering kali seseorang tidak menyadari muatan-muatan apa yang dimasukkan kedalam pikirannya. Ini sangat penting, karena muatan pikiran itulah yang nantinya akan mengkristal menjadi kenyataan. Jadi dengan mengisi hal-hal yang positif ke dalam pikiran, minimal akan memunculkan sikap yang positif. Dari sikap yang positif akan melahirkan tindakan yang positif. Kalau tindakan ini dilakukan setiap saat…setiap hari, akan menjadi kebiasaan yang positif. Dari kebiasaan ini melahirkan karakter diri. Karakter inilah yang pada akhirnya akan mencetak nasib seseorang.
Kedua, penggunaan pikiran. Dengan memasukkan hal-hal yang positif kedalam pikiran tidaklah cukup, apabila tidak disertai dengan memanfaatkan pikiran yang positif dimaksud. Contohnya, apabila suatu ketika kita gagal, terus kita berpikir “ya sudahlah…namanya belum diijinkan oleh Tuhan”. Pemahaman ini sudah baik, tetapi akan lebih baik lagi kalau pemahaman tersebut digunakan untuk mencari cara lain yang lebih baik agar berhasil. Agama mengajarkan bahwa beriman pada takdir tidak sama dengan pasrah pada realitas/keadaan. Iman kepada takdir, artinya menerima realitas kemudian berupaya untuk memperbaiki atas dasar keimanan. Pasrah pada realitas, artinya hanya menerima apa yang telah terjadi tanpa ada tindakan perbaikan. Secara psikologis pasrah kepada Tuhan itu positif, tetapi pasrah pada realitas itu tidak baik.
Dengan kata lain, kita wajib beriman pada takdir tetapi tidak pasrah pada kenyataan. Sehingga dari pikiran yang positif kita akan melakukan hal-hal positif guna merealisasikan tujuan yang positif dengan mengembangkan potensi positif untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul secara positif, kreatif dan konstruktif.
Ketiga, pengawasan pikiran. Hal ini penting karena tidak ada orang di dunia ini yang muatan pikirannya selalu positif setiap saat. Apalagi ketika seseorang mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan keinginan/target. Kebanyakan orang, pada awalnya akan menyalahkan pada kondisi atau orang lain yang diajak berinteraksi yang menyebabkan hasilnya tidak seperti yang diharapkan (pemikiran negatif). Pemikiran negatif tidak akan terjadi bilamana kedalam pikiran kita sudah dimasukkan nilai-nilai hidup atau falsafah hidup yang mampu membentuk jatidiri dan karakter positif.
Makanya ada yang mengatakan bahwa “nasib yang diterima hari ini adalah merupakan hasil pemikiran di masa lalu”. Pemikiran disini bukanlah pemikiran yang muncul saat-saat tertentu, melainkan pemikiran yang sudah menjadi budaya hidup.
“Saya bukan ahlinya, tetapi saya hanya ingin berbagi apa yang saya ketahui walau hanya sedikit”
source: A.N Ubaedy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar