my banner link

Kamis, 11 Maret 2010

Sutradara Perempuan Pertama yang Merebut Oscar

"Dan pemenangnya adalah...," demikian ucap aktris dan penyanyi senior Barbra Streisand, yang menjadi pembaca nama pemenang Sutradara Terbaik Oscar/Academy Awards, Minggu (7/3) di Kodak Theatre, Los Angeles, AS. Ia membuka amplop dan langsung tersenyum lebar. "Nah, waktunya sudah datang," katanya ceria. Lalu, ia menyebutkan nama pemenang kategori tersebut: Kathryn Bigelow.
Kathryn dan Barbra
Luar biasa! Inilah perempuan pertama yang terpilih sebagai sutradara terbaik dalam 82 tahun sejarah penyelenggaraan Academy Awards.
**
Info untuk Anda, Kathryn membuat film drama independent/indie berirama cepat, yang berkisah tentang perjuangan tentara AS di Irak. Judulnya, Hurt Locker. Biaya pembuatannya "hanya" 11 juta dolar AS. Inilah film dengan biaya produksi terendah sepanjang sejarah, yang mampu menembus Oscar-menang pula sebagai Film Terbaik (mengandaskan film Avatar yang dibuat dengan biaya supermahal, yakni 300 juta dolar AS) dan secara total menyabet 6 piala Oscar.
Sebagai sutradara terbaik, bisa dibilang, Kathryn sukses menyisihkan empat saingannya yang semuanya pria; yaitu James Cameron yang mengarahkan film "Avatar", Quentin Tarantino ("Inglorious Basterds"), Lee Daniels ("Precious"), dan Jason Reitman ("Up in the Air"). Oh ya, tahukah Anda, dahulu James merupakan pasangan hidup Kathryn?
**
Sesaat setelah diumumkan sebagai pemenang Sutradara Terbaik, dengan ekspresi wajah tak percaya, Kathryn naik ke atas panggung untuk menerima Oscar. Dengan terbata-bata, pengajar di San Francisco Art Institute ini mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak dan mendedikasikan penghargaan itu untuk para tentara AS yang sedang bertugas di Irak, serta Afghanistan. 
Kathryn Bigelow
"Ini adalah peristiwa sekali seumur hidup, suatu momentum dalam kehidupan," ucap Kathryn.
Kemudian di belakang layar, ia mengatakan harapannya, yaitu banyak perempuan lain yang akan mengikuti jejaknya: menerima penghargaan tertinggi sebagai sutradara, di ajang penghargaan paling bergengsi untuk para pekerja film AS tersebut.
"Saya selalu menganggap diri saya sebagai pembuat film! Saya bersyukur bila dapat menginspirasi para bakat muda, laki-laki maupun perempuan, dan membuat mereka merasa yang mustahil dalam meraih sesuatu menjadi yakin bahwa segalanya bisa kita raih," paparnya. "Jika ada memandang sebelah mata terhadap perempuan sutradara, saya hanya bisa memilih untuk mengabaikan isu itu dengan dua alasan: saya tak bisa mengubah status gender saya dan saya menolak untuk berhenti membuat film. Tak relevan untuk bicara siapa yang menyutradarai film. Ini persoalan apakah kamu mau menghargai film itu atau tidak!"
Lalu ia menjelaskan, "Film adalah media yang baik untuk menyatakan sesuatu. Dengan film, kita bisa menyampaikan pemikiran kepada masyarakat dunia. Misalnya, perang adalah sesuatu yang tercela..."
Lebih lanjut, Kathryn mengungkapkan rahasia suksesnya. Katanya, ia tipe sutradara yang selalu memulai membuat film dengan riset kondisi sosial masyarakat. Dia juga tipikal sutradara yang suka mengambil sudut pandang orang pertama.
"Dalam The Hurt Locker, saya tak bicara politik," pungkas Kathryn. "Saya juga tidak bicara soal keputusan di tingkat elite/pengambil kebijakan. Saya hanya mengangkat detail apa yang dilakukan tiga serdadu penjinak bom di medan perang. Ini bukan film tentang kekerasan, melainkan film tentang tugas dan pertempuran hidup di tengah tekanan luar biasa."
Pendapat atau sudut pandang Kathryn tak salah. Setidaknya, para juri Academy Awards menganggap film indie karyanya merupakan film berkualitas nomor satu. Pun, Kathryn dinilai sebagai sutradara yang luar biasa dan individu berwawasan luas.
Bagaimana pendapat Anda? 
 
*) photos credit: getty images
source: Andriwongso 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar