my banner link

Senin, 22 November 2010

Kehormatan Sejati dari Seorang John Stephen Akhwari



Saat itu seluruh pemenang perlombaan telah ditentukan, juara 1, 2, dan 3 dari lari marathon itu sudah jelas, dan tidak

John Stephen Akhwari
mungkin berubah lagi. Saat itu pun para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku stadion yang sudah mulai kosong.
Akan tetapi tak berapa lama, penonton yang belum pulang itu dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa akan ada pelari yang akan masuk stadion. Penonton kaget, mereka kira sudah selesai perlombaan, tetapi mereka melihat dengan jelas saat seorang pelari memasuki ke stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta nomor di dadanya, dia masuk ke stadion dan berlari kecil-kecil sambil terpincang dengan balutan luka di kaki kanannya.
Serentak, seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Stadion kembali bergemuruh dengan standing ovation. Mereka menyemangati pelari ini untuk terus berlari hingga finish. Suara dukungan disampaikan kepadanya. Dan ini membuat pelari itu terus bersemangat hingga kemudian dia menyentuh garis finish. Dia berhasil sampai pada garis finis, di saat tidak pelari lain lagi. Dia adalah pelari terakhir dalam perlombaan itu. Dia datang saat hari telah malam.
Itulah John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania, yang mengikuti perlombaan lari marathon pada olimpiade di Mexico tahun 1968. Dia menjadi pelari terakhir yang berhasil menyentuh garis finis. Dia menyelesaikan larinya dengan keadaan kakinya yang terluka. Dia cedera karena ternyata saat tengah perlombaan dia terjatuh sehingga betis dan lututnya terluka. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut. Sepanjang 5000 mil dia menyelesaikannya.
Luar biasa seorang John Stephen Akwari, inilah namanya. Pemenang sudah ditentukan, penonton sudah mulai beranjak pulang, acara di stadion sudah selesai, tetapi dia tidak peduli. Dia terus bertekad untuk menyelesaikannya. Walaupun sesekali dia berjalan karena kakinya yang kesakitan, dia tetap menuju ke garis finis. Dia tetap mengarah ke tujuannya. Dan benar, dia sampai ke sana.
Ketika setelah perlombaan, dia ditanya oleh wartawan mengapa dia tidak mengundurkan diri saja karena kakinya yang cedera dan sudah tidak mungkin untuk menang, dia menjawab dengan sangat sederhana, tetapi bagi saya luar biasa sangat bermakna. Dia mengatakan seperti ini,
My country didn’t sent me 5000 miles to start the finish, but they sent me 5000 miles to finish the race.”
Boleh saja John Stephen Akwari tidak menjadi juara satu, dua, atau tiga yang mendapatkan piala, tetapi dia juga adalah pemenang. Bahkan pemenang yang luar biasa. Dia telah membuktikan kepada dunia apa yang dinamakan kehormatan itu. Dia adalah contoh bagaimana menyelesaikan sesuatu yang telah dimulainya. Dia adalah teladan dalam memperjuangkan kehormatannya.
Negaranya tidak mengirim dirinya hanya untuk memulai perlombaan, tetapi mereka mengirimnya sejauh 5000 mil untuk menyelesaikannya. Bagaimanapun kondisinya, dia punya amanah untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsanya. Dia memberikan keharuman bagi negaranya dan membuktikan bahwa negaranya bukanlah negara yang lemah.
Subhanallah, begitu tidak menyerahnya dia, bagaimana kekuatan keyakinannya dapat memberikan tambahan tenaga serta motivasi bagi dirinya untuk menyelesaikan lomba itu. Inilai pemenang sejati. Dialah yang berhak mendapatkan medali emas sesungguhnya. Sebuah medali kehormatan.
Saya jadi merasa malu dengannya. Terkadang apa yang telah saya mulai, hanya dengan sedikit hambatan membuat saya gentar. Apa yang telah direncanakan, begitu memulainya membuat saya takut untuk melakukannya, hingga rencana itu hanya menjadi sebuah rencana.
John Stephen Akwari memberikan inspirasi serta motivasi bagi saya agar terus berusaha dan memperjuangkan apa yang telah saya mulai. Apa yang telah saya lakukan sejauh ini, janganlah berhenti. Perjuangkan dengan sekuat-kuatnya. Sukseskan apa yang telah saya perjuangkan hingga tuntas dengan mengeluarkan seluruh kemampuan saya. Karena ikhtiar haruslah diperjuangkan. Barulah jika telah berikhtiar maksimal maka kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.
John Stephen Akwari menyelesaikannya dengan perjuangannya yang luar biasa, sebuah akhir yang baik. Sudah tentu, Allah juga menakdirkan kita semua lahir di dunia ini bukanlah hanya untuk memulainya, tetapi kita harus memperjuangkan untuk mendapatkan akhir yang baik pula, untuk mendapatkan kehormatan dari Sang Pencipta. Kita berjuang untuk mendapatkan ridho-Nya.
Jika kita sekarang adalah seorang mahasiswa, maka perjuangkanlah hingga kita bisa lulus dengan baik pula. Jika kita adalah seorang pebisnis, maka sukseskanlah bisnis yang telah dimulai hingga dapat menjadi manfaat bagi sesama. Jika kita adalah sesorang yang telah punya rencana mulia, maka teruslah berjuang untuk mewujudkannya. Janganlah menyerah.
Teman-teman marilah kita bersama-sama mesukseskan apa yang telah kita perjuangkan. Apa pun itu selama itu adalah kebaikan, bahkan sekecil apapun, maka kita perjuangkan.
source: yuamar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar