my banner link

Rabu, 04 November 2009

Kurus Bukan Berarti Tak Berlemak

Gambar MRI scan membuktikan bahwa orang yang berbadan kuruspun belum tentu terbebas dari lemak jahat. Beberapa dokter sekarang berpendapat bahwa lemak yang ada di dalam tubuh disekitar organ-organ vital seperti jatung, liver dan pankreas adalah sama berbahayanya dengan lemak yang terlihat di tubuh bagian luar yang menonjol di bawah kulit.

"Berbadan kurus bukan berarti Anda tidak berlemak," ungkap Dr. Jimmy Bell, seorang profesor bidang penggambaran molekuler di Imperial College, London. Sejak 1994, Dr. Bell dan timnya telah memindai lebih kurang 800 orang dengan mesin MRI untuk menemukan "pemetaan lemak" yang menunjukkan dimana letak orang menyimpan lemak di tubuhnya.

Menurut data-data yang ditemukan, orang-orang yang menjaga berat ideal tubuhnya dengan berdiet makanan namun tanpa berolahraga, cenderung memiliki timbunan lemak yang besar di dalam tubuhnya, bahkan meski mereka bertubuh langsing sekalipun. "Konsep keseluruhan tentang pengertian gemuk perlu dijelaskan ulang," ungkap Dr. Bell yang penelitiannya didanai oleh Britain's Medical Research Council (Dewan Penelitian Medis Inggris).

Tanpa adanya peringatan yang jelas, para dokter khawatir akan muncul asumsi salah dari orang-orang berbadan kurus yang merasa mereka sehat-sehat saja karena tidak kelebihan berat badan. Padahal keadaan bisa sebaliknya.

"Hanya karena mereka berbadan kurus tidak berarti mereka kebal dari bahaya penyakit diabetes atau faktor-faktor beresiko penyakit jantung," ungkap Dr. Louis Teichholz, kepala bidang kardiologi Rumah Sakit Hackensack di New Jersey, USA, yang tidak berperan serta dalam penelitian Dr. Bell.

Bahkan orang yang mempunyai skor BMI (Body Mass Index) normalpun bisa menunjukkan tingkat timbunan lemak yang mengejutkan di dalam tubuhnya. Pada para wanita yang di-scan oleh Dr. Bell dan timnya, sebanyak 45 persen dengan skor BMI yang normal ternyata memiliki tingkat lemak yang berlebih di dalam tubuhnya. Sementara untuk para pria, persentasenya mencapai 60 persen.

Berkaitan dengan istilah yang disebut Dr. Bell sebagai "thin outside, fat inside (TOFI)" (kurus di luar, gemuk di dalam), hasilnya benar-benar mengejutkan. "Semakin kurus orangnya justru hasilnya semakin mengejutkan," ungkapnya berkaitan dengan penemuan TOFI pada responden para model profesional yang bertubuh sangat kurus dan langsing.

Menurut Dr. Bell, orang-orang yang berlemak dalam organ-organ tubuhnya dapat berpotensi menjadi gemuk. Mereka terlalu banyak mengkonsumsi lemak, makanan berkadar gula tinggi dan jarang berolahraga. Tetapi mereka tidak makan terlalu banyak. Para ilmuwan meyakini bahwa kita secara alami menimbun lemak pada perut, tetapi pada kondisi tertentu, tubuh mulai menimbunnya di mana saja. Kebanyakan orang juga meyakini bahwa berbobot tubuh normal adalah indikator kesehatan yang baik. Apalagi skor BMI dianggap sebagai acuan ukuran yang dapat diandalkan.

"BMI tidak akan mengindikasikan letak lemak secara persis, tetapi lebih merupakan alat ukur tubuh secara klinis," kata Dr. Toni Steer, ahli nutrisi dari Dewan Penelitian Medis Inggris.

Para dokter tidak yakin secara persis akan bahaya timbunan lemak di dalam organ tubuh, tetapi sebagian dari mereka menduga kondisi tersebut dapat terkait dengan bahaya penyakit diabetes dan jantung. Teori mereka adalah lemak di dalam organ tubuh dapat mengganggu sistem kerja tubuh secara keseluruhan. Lemak yang menyelubungi organ internal dapat mengirimkan sinyal kimiawi yang salah untuk menimbun lemak dalam organ-organ seperti di liver atau pankreas. Kondisi ini pada akhirnya beresiko akan gangguan insulin, diabetes tipe 2 atau penyakit jantung.

Para ahli telah mengetahui bahwa orang-orang bertubuh gemuk yang aktif diketahui lebih sehat daripada mereka yang bertubuh lebih kurus namun kurang aktif. "Mereka yang berbobot normal namun kurang aktif dan fit beresiko lebih besar terhadap penyakit daripada mereka yang gemuk namun tetap aktif dan fit," kata Dr. Steven Blair, seorang ahli obesitas dari University of South Carolina, USA.

"Sebagai contoh mudahnya, seorang pegulat sumo yang gemuk memiliki riwayat metabolisme lebih baik daripada para penontonnya yang langsing dan hanya duduk diam menonton," tambah Dr. Blair. Hal itu karena lemak pada para pegulat itu umumnya tertimbun di bawah kulit dan tidak menyelubungi organ vital dan otot-otot mereka.

Namun kabar baiknya adalah lemak dalam organ tubuh dapat dibakar dengan berolahraga atau bahkan dengan memperbaiki cara diet Anda. "Meskipun tidak terlihat secara langsung, namun olahraga fisik dan pengaturan kalori dapat berpengaruh besar terhadap lemak internal," kata Dr. Bob Ross, seorang ahli obesitas dari Queen's University di Kanada.

Namun karena banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap resiko penyakit jantung, Dr. Teichholz menyatakan sangat sulit untuk memastikan secara akurat akan bahaya dari timbunan lemak internal. "Obesitas merupakan salah satu faktor resikonya, namun masih tergolong rendah," tambahnya sambil mencontohkan bahwa riwayat penyakit di keluarga, tingkat kolesterol dan tingkat tekanan darah merupakan faktor yang lebih menentukan daripada lemak internal dan eksternal.

Kesimpulannya, kalau Anda ingin fit dan sehat, Dr. Bell menyarankan, "Jika Anda ingin terlihat kurus dan langsing, maka cukuplah berdiet saja. Tetapi jika Anda ingin benar-benar sehat, maka berolahraga harus menjadi bagian penting dari gaya hidup Anda."

kurus_bukan_berarti_tak_berlemak_detail.jpg


Keterangan foto:
Gambaran MRI scan ini dikeluarkan oleh Imperial College, London, yang menunjukkan tampilan rinci dimana lemak menyelubungi organ-organ vital tubuh manusia. Hasil tersebut didapat dari seorang pria bertubuh sedang dengan tinggi 190 cm, berat 79 Kg dan memiliki indeks normal 21,7. Lemak internal ditunjukkan berwarna kuning, lemak eksternal berwarna hijau dan otot berwarna merah.
source : sportindo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar